Laman

Bookworm

0 komentar


Sejak kapan aku mulai menyukai buku? jawabannya sejak aku masih kecil, sekitar SD, dan aku juga pertama kali mulai paham bahwa bentuk persegi panjang ini disebut buku. Ayahku yang seorang pendidik mengoleksi banyak, kalau aku tidak salah ingat hampir ribuan judul buku, dan seluruh bukunya adalah nonfiksi bergenre hukum, politik, sosial, komunikasi dan pendidikan. Aku yang dulu tidak paham apa maksud dari ayahku mengumpul banyak buku, sampai aku sering bertanya-tanya dalam diri, apa manfaat yang terkandung jika kita membaca? apa yang dihasilkannya? berapa banyak biaya yang dikeluarkan untuk membeli semuanya? (walau aku belum paham tentang uang saat itu) tapi ada pepatah yang berkata 'ala bisa karena biasa' karena mata setiap hari memandang tumpukan kertas ber-cover itu, lama-kelamaan pasti tertanam di dalam otak kita, bukan begitu?

Akhirnya dengan tabungan yang sedikit aku juga mulai mengumpulkan buku, berbekal uang perhari aku dapat yang jumlahnya tidak begitu banyak, aku mengumpulkannya sedikit demi sedikit. Hingga akhir pekan, bersama orang tuaku aku singgah ke toko buku yang cukup terkenal Gramedia, untuk membeli sebuah buku, atau lebih tepatnya komik. Yah, satu komik satu minggu, lumayan tersiksa juga.

Kepribadianku yang introvert tidak terlalu suka komik berbau sangat setimen, aku lebih memilih komik yang dapat mengasah otak, maka kujatuhkan pilihanku pada komik yang booming saat itu, Detektif Conan. Menurutku, komik ini sangat pas dengan yang kuidamkan. 

Penjelajahanku ke toko buku Gramedia memakan waktu berbulan-bulan, hingga aku berhasil mengumpulkan puluhan komik, plus juga dengan buku yang sering aku beli di sekolah. Tapi sayangnya, ketertarikanku pada komik jauh lebih besar, ketimbang buku pelajaran, karena menurutku buku pelajaran tidak menarik, sangat sulit dipahami, belum lagi tulisan-tulisannya yang berbentuk linear membuat otakku pusing, tapi berbeda dengan komik, penuh dengan gambar, jadi kelihatan menarik. 

Gambar di atas adalah salah satu gambar yang membuatku tertegun disaat membaca komik kegemaranku ini. Begitu banyak buku, hingga tak dapat dihitung pikirku saat itu. Bayangkan saja untuk menggapai satu buku yang letaknya tinggi dibutuhkan tangga, belum lagi ruangan itu bertingkat. Pada saat itulah aku menanamkan dalam diriku untuk mulai mengoleksi komik. Uang terus kutabung, dan setiap kami sekeluraga bepergian ke suatu tempat, maka aku pasti request ke toko buku. Perasaanku jika memasuki tempat itu, membuatku menemukan harta terpendam, yang lebih mahal dari baju, rok mini ataupun boneka barbie pikirku kala itu. . 

Namun selang beberapa tahun kemudian, akupun mulai jenuh disebabkan pemasukan yang mulai minim, hingga berhenti total untuk membeli komik. maka vakum-lah aku beberapa tahun tidak membaca lagi.

Lalu memasuki tingkat sekolah menengah, ketertarikanku kepada buku mulai terasa kembali, (yah namanya jika sudah cinta tak ada lagi yang dapat memisahkan kita) pas sekali didukung dengan uang jajan mulai menebal, 'ekspedisi siap' Namun berbeda pada tahun-tahun sebelumnya, kali ini aku lebih fokus mempelajari Islam, uang jajan perminggu yang dahulu aku pakai untuk membeli barang-barang yang tidak bermanfaat, kini aku alihkan untuk menabung lalu membeli buku-buku rohani. Toko-toko buku yang dahulu sempat aku tinggalkan kini menjadi sahabat terdekatku kembali. senangnya

Sampai saat ini, aku telah mengumpulkan ratusan lebih judul judul buku. posisi terbanyak adalah Islam, bahasa inggris, novel, politik/hukum dan lain sebagainya.

Pertanyaan-pertanyaan yang dulu tak terjawabkan tentang manfaat mengoleksi buku, kini terjawab dan yang kuketahui maksud ayahku adalah untuk menggali informasi-informasi yang tidak kita ketahui hingga kita menjadi bahagia karena mengenalnya.