Laman

Angkuhmu Mematikan

0 komentar


Mereka bertanya arti arogansi 
kuberi kau yang luar biasa

Kamu kaya? katakan ada Carlos Slim Helu
Kamu cantik? tengok si rambut merah Susan Coffey
Mata indah? cek pemilik dari negara lambang Hulu Tiang Singa Ashoka
Kamu cerdas? jangan salah ada Marlyn Vos Savant 

Down to Earth? lawan Mother Teresa
Pemilik rumah indah? coba lihat Updown Court di Inggris
Perhiasanmu mahal? ada Pink Star Diamond
Tangguhkah kau? Jeanne d'Arc pahlawan suci

Siapa kamu di mata mereka yang telah mendunia, diakui 
Tercatat dalam sejarah, dikagumi, diingini dan diikuti oleh banyak orang
Dibandingkan dirimu sangat berbeda
Jangan belagu muke lu jauh

Tapi satu hal yang pasti 
Aku berkata bahwa semua orang di mata Tuhan sama
Seluruh contoh di atas adalah sketsa hidup
Untuk melihat keabadian itu adalah kebaikan yang bermanfaat


Short Dialog dengan Taufik Ismail

0 komentar


Kemarin aku mengikuti sebuah seminar nasional yang pembicaranya adalah Taufik Ismail, sastrawan ulung yang telah menelurkan banyak karya. Singkatnya, aku tiba di tempat seminar kurang lima belas menit dari jam yang tertera di tiket, walhasil ekspektasi untuk duduk di bagian depan sudah terkalahkan dengan gerombolan ratusan peserta lainnya, lalu kuputuskanlah untuk duduk di sayap kiri tengah gedung, sangat jauh memang, ditambah lagi mata yang tidak bersahabat. Tentunya, seperti biasa jam ala orang Indonesia pasti molor, bayangkan saja, seminar baru di mulai hampir dua jam, butuh  kesabaran menunggu sang maestro tapi tidak apa-apalah ini kesempatan emas, tak boleh dilewatkan, berapa jam pun kujabanin, jarang-jarang loh. 

Pukul sepuluh, sang sastrawanpun tiba dengan gagahnya didampingi beberapa petinggi universitas, penari serta musik khas Makassar.  Kebiasaan jelek para peserta seminar adalah mereka kayak melihat dewa dewi turun dari kuil Olimpus Yunani, berdiri ditempat duduknya, bahkan ada yang naik ke kursi lalu mengambil ponsel, dan jepret jepret piece. Menurutku ini benar-benar memalukan, bertingkahlah biasa, toh juga nanti pembicara duduk di pondium yang sudah disediakan dengan cantiknya. 

Setelah rangkaian acara pembuka lainnya usai, tibalah sang maestro disilakan untuk merangkai kata dihadapan banyak penghuni aula, dengan khasnya ia berdiri, maju beberapa sentimeter, dan suaranya yang terdengar sexy menurutku membius hati, untaian kata mengalir jernih, jelas juga jelita di telinga, sekitar enam atau tujuh puisi ia bawakan dan seluruh puisi itu bernuansa religi, menurutku memang mendukung karena tempat digelarnya seminar ini di kampus bernuansa islami, Unismuh men! 

Singkat cerita, tibalah sesi tanya jawab, lima orang penanya diberi kesempatan untuk berdialog, tanpa ba bi bu segera kuangkat tangan dengan tinggi sambil berdiri “Jilbab warna pink” ucap moderatonya, senangnya hatiku, riang, dan gembira merangsang sekujur tubuh, nomor antriku yang terakhir tapi aku ra po po yang penting bisa bertanya.

Berbagai macam pertanyaan dari tiap penanya, semuanya berbobot dengan kata-kata intelek, sempat jatuh juga mendengarnya, karena kalau dibandingkan pertanyaanku, glek telen ludah, tetapi sudahlah, katakan apa yang kamu butuhkan, see it let it flow, dan asal tahu saja, aku penanya wanita seorang ditambah lagi, letak mic berada di sudut, tak terlihat dari moderator, kecuali ia membalikkan badan, andai tidak kubersuara, si moderator sudah pasti melupakanku, sedihnya lagi kesempatanku bertanya sempat di tangguhkan beberapa menit, tapi sang maestro sungguh baik hati dan tidak sombong, ia menegur moderator lalu menunjukku dengan tangannya untuk dipersilahkan bersuara, pastinya senangnya hatiku, riang, dan gembira.

Isi pertanyaanku kurang lebih seperti "Bagaimana membangun sisi emosional jika menulis puisi hingga seseorang yang membacanya tersentuh, seperti karya pak Taufik Ismail." sempat beberapa kali ditegur karena volume suara yang kecil, maklum inilah kebiasaan jelekku, kesulitan membesarkan suara di depan mic, bukan karena canggung, tapi memang dasarnya seperti itu. 

Setelah semua pertanyaan dikumpul, kemudian beliau menjawab bertahap secara aktual, tajam dan terpercaya. Sampai tiba giliran pertanyaanku, beliau berkata "saya kurang begitu jelas, tidak terdengar suaranya" toeng toeng meringis men, pasti pertanyaannya dibatalkan, apalagi waktu sudah hampir memasuki sholat dhuhur pasrah saja deh batinku saat itu, tapi lagi lagi sang maestro menunjukkan sikap baik hati dan tidak sombong.
           
Beliau mencari posisiku, 

“Mana tadi yang bicara” tanyanya melalui mic,  kuangkat tangan tinggi, tapi karena tidak terlihat, kuberdiri dan semua mata tertuju padaku. 

Kembali ia bertanya 

"Bisa diulangi pertanyaannya" 

Glek, mic nya di depan pak, butuh beberapa menit untuk bersuara, kurasa juga moderator sadar waktu, jadi ia langsung bilang "Ia bertanya kiat-kiat menulis." What? Jauh sekali perbedaan pertanyaannya, tetapi sudahlah, kuangguk saja dan dimulailah dialog singkatku, gambarannya seperti ini.

"Apa kamu ingin jadi penulis?" tanyanya

"Iya” jawabku dengan anggukan

"Semestinya pemerintah memberimu buku 25 buah setiap bulannya, karena rahasia menjadi penulis itu membaca juga menulis dengan banyak dan bla bla bla." Tentunya nasehatnya kuperhatikan, kubuat setiap apa yang dia ucapkan tidak luput dari pendengaranku, lucunya aku masih tetap berada dengan posisiku, berdiri. Sadar karena dilihat banyak orang jadi kupilih untuk duduk. 

Lalu tak lama kemudian, kembali pak Taufik mencariku, sontak aku berdiri lagi lalu ia  bertanya

"Dalam sebulan, berapa buku yang kamu baca?"

Kuberi ia tanda piece, how pathetic 

"Bagus" ucapnya mantap

Lalu kembali ia menceramahi lagi, tidak lupa ia juga berpesan untuk menyediakan sebuah buku khusus untuk mencatat setiap kegiatanku. Kembali ku duduk, dan tidak lama lagi ia bertanya, lalu berdiri lagi, tensin bro. 

"Dua buku yang kamu baca, jadikan ia dalam seminggu? Bisa?" dengan kikuk, kugoyangkan kepala, wajar saja ragu toh standar dua buku bacaan itu khusus buku tebal dengan tingkatan kesulitan tata bahasa. 

"Pasti bisa." beliau menyakinkanku dan kali ini kugoyangkan kepala dengan keras 

"Alhamdulillah” jawabnya lega

Ya Tuhan, bisakah aku? tapi jika Taufik Ismail saja bilang seperti itu, lalu kenapa ragu, ok gilas abis. Jangankan dua buku perminggu, lebih dari itu aku bisa, asalkan persediaan  bukunya menggunung, haihai. 

Am i dreaming? Or is it halutination? Pikirku sewaktu rangkaian acara usai *lebay

Hatiku terkejut bagai dikontak listrik
Rupamu menua tapi suara memuda
Tergelitik hati ingin mendekat
Tapi kau jauh terlihat dari layar persegi panjang

Batin memohon meminta bertemu
Ketatapan Ilahi memang terbukti melihatmu
Hingga mimpi itu jadi nyata dipelupukku
Sebab hari senin jadi saksiku

Tebar Senyum

0 komentar


Seakan deretan gigimu tak henti terbuka
Pipimu mengembang bak kue Bakpao
Matamu bahkan tak terlihat
Hingga suaramu cekikan tersembur keluar

Seakan terlepas semua bebanmu
Lega melewati lika liku hidupmu
Beban banyak tak terhingga menyapamu
Kini lepas tak tersisa sedikitpun bersamamu

Padahal orang mengenalmu angkuh
Misterius bak gangster
Pedis dikala berpendapat
Menjauh menyendiri memeluk sepi

Hidup
Kini mengajar arti kata hatimu
Lebih terbuka sampai tahu siapa kawanmu
Memberi kepercayaan untuk membentuk jiwamu

Tetaplah begitu sampai kapanpun
Jangan biarkan aura hitam memburu
Kunci dia dengan bahagiamu
Sebab kini semua orang tenteram dekatmu

Buku Keroyokan ke Lima

0 komentar


Untuk buku yang satu ini tidak ditetapkan tema yang sama, tapi tema acak namun pembaca bisa menangkap inspirasi dari kumpulan cerita para penulis, karena beragam, lebih mudah bagiku menentukan temanya dan akhir-akhir ini memang aku selalu mengangkat tema tentang ibu sebab akal dan perasaanku mendominasinya. Jadi, cerita yang kuangkat di buku ini tentang kisah pilu keluarga temanku, khususnya kesabaran seorang ibu merawat anaknya yang menderita penyakit "aneh" yang dibalut cerpen. 

Untuk lebih detail klik ini

Buku Keroyokan ke Empat

0 komentar


Sesuai gambar di atas, buku ini berisi beberapa kisah peran ibu dengan segudang aktivitas yang tak ada henti-hentinya namun masih bisa terlihat happy, padahal mengurus diri sendiri saja capeknya luar biasa, apalagi anak, pasangan, rumah, belum lagi kalau ibu memiliki pekerjaan lain, wuuiih dibayangkan saja otak mampus, apalagi dikerjakan.

Karena terdengar mengerikan bagi perempuan, kisah para ibu yang tertuang dalam bentuk buku ini, bisa kita ambil ibrahnya dan khusus untuk kisah yang kuangkat adalah kisah seorang ummahat yang sudah aku kenal lama, dan menurutku beliau orang tepat untuk proyekku ini. Menyelami kisahnya patut di acungi jempol, aku sendiri saja dibuat bengong karena tindakannya yang cukup berani, salut. 

Tanpa basa basi panjang, silakan dibuka di sini

Buku Keroyokan ke Tiga

2 komentar


Suka baca yang serem? buku ini pas sekali, enaknya lagi bukan fiktif loh tapi nyata. Mulai membelalak? bagus! itu artinya kamu tertarik, tertarik untuk beli *ngakakguling 

Wah ini event luar biasa, banyak yang unjuk gigi, pesertanya saja membludak, saya saja heran. Untuk event nulis ini terbagi dua, yang pertama event FT Kopi Bercerita, pesertanya sebanyak tiga ratus tiga (sayang nggak ada ide di situ), yang lulus hanya seratus dua puluh sembilan sedangkan yang ke dua yaitu FTS Horor Misteri pesertanya sebanyak seratus delapan tiga, tapi yang lolos hanya empat puluh delapan orang saja, termasuk tulisanku.

Untuk buku Horor Misteri dibagi menjadi tiga jilid, dan tulisanku masuk di jilid ke tiga. Tentang covernya unyu-unyu begitu juga buku yang lainnya termasuk isinya. *hehehe

So, chack di sini

Bisa juga melalui saya *senyumindah

Buku Keroyokan ke Dua

0 komentar


Ini buku antologi berisi puisi dan cerpen ke duaku yang terbit di bulan Maret, tema yang diangkat terinspirasi dari empat karakter Rasulullah yaitu Siddiq, Amanah, Tabligh, dan Fatonah. Aku mengambil tema Siddiq karena menurutku temanya pas dengan cerita yang akan aku tulis. 

Angkat tema ini memang mengharukan, soalnya jadi ingat pribadi Rasulullah yang tiada bandingnya, ingat loh baru empat sifatnya, belum yang lain. Kan makin sayang sama Beliau. 

Ditanya tentang jumlah peserta yang ikut event ini, ada sebanyak sembilan puluh dua orang dan yang lolos sebagai kontributor hanya lima puluh sembilan orang. Cukup bersaing dengan beberapa penulis handal lainnya.

Bocoran lagi, judul tulisanku yaitu Merpati dalam Gagak, maksudnya? Yah, coba diterka sendiri *tawatutupmulut

Well, silakan di baca, tapi beli dulu ya *nelenbuku

Cek di sini

I Let you Go

0 komentar


pergilah
bersamanya terbang melewati awan bertingkat
membentuk barisan indah di langit luas
memadu kasih, memamerkan dunia
biar mereka tahu kalian bersatu

kamu tahu
penantiannya tak luntur dimakan usia
matanya nakal menggerayatimu
kakinya berlari menjemputmu
tangannya menjamahmu

dia 
memang oase di antara kaum wanita
aura maskulin tatkala melihatnya
tegap badannya bak militer
perangainya indah

olehnya
 ku bingkai hati seluas danau Kaspia
menjauh dari mu dan dia
berkelana sekali lagi
mencari kasih lain

Buku Keroyokanku

0 komentar

Ini buku keroyokanku yang pertama, berisi tentang kisah-kisah yang tak terlupakan bersama ibu dari para penulis lainnya. Kalau ditanya ada rasa bangga, ya bisa dibilang begitu karena hasil usaha sendiri juga tulisanku layak show off menurut itung-itungan panitia seleksi. 

Oh iya, dikit bocoran judul tulisanku yaitu tangan kanan mama lezat, cerita ini asli kisah pribadiku yang paling tak terlupakan sampai detik ini, bikin terharu sampai nangis terisak-isak *hiks hiks srupp.

Kalau ditanya jumlah keseluruhan peserta, ada seratus enam puluh tujuh dan dipilih seratus orang dengan lima kategori tulisan terbaik lalu di bukukan, sayang tidak masuk jadi pemenang, tapi tidak apa-apalah namanya awal, awal yang baik untuk mendisiplinkan menulis rutin. Soalnya kalau tidak ikut perlombaan beginian, terpaan badai malas membahana keseluruh aliran tubuh ini *lebay. Karena terdiri seratus cerita jadi bukunya dibagi dua, lima puluh cerita untuk buku seri satu (termasuk tulisanku) dan lima puluh cerita untuk buku seri dua. 

Oke deh, untuk info lebih detail silahkan klik ini aja.

Bookworm

0 komentar


Sejak kapan aku mulai menyukai buku? jawabannya sejak aku masih kecil, sekitar SD, dan aku juga pertama kali mulai paham bahwa bentuk persegi panjang ini disebut buku. Ayahku yang seorang pendidik mengoleksi banyak, kalau aku tidak salah ingat hampir ribuan judul buku, dan seluruh bukunya adalah nonfiksi bergenre hukum, politik, sosial, komunikasi dan pendidikan. Aku yang dulu tidak paham apa maksud dari ayahku mengumpul banyak buku, sampai aku sering bertanya-tanya dalam diri, apa manfaat yang terkandung jika kita membaca? apa yang dihasilkannya? berapa banyak biaya yang dikeluarkan untuk membeli semuanya? (walau aku belum paham tentang uang saat itu) tapi ada pepatah yang berkata 'ala bisa karena biasa' karena mata setiap hari memandang tumpukan kertas ber-cover itu, lama-kelamaan pasti tertanam di dalam otak kita, bukan begitu?

Akhirnya dengan tabungan yang sedikit aku juga mulai mengumpulkan buku, berbekal uang perhari aku dapat yang jumlahnya tidak begitu banyak, aku mengumpulkannya sedikit demi sedikit. Hingga akhir pekan, bersama orang tuaku aku singgah ke toko buku yang cukup terkenal Gramedia, untuk membeli sebuah buku, atau lebih tepatnya komik. Yah, satu komik satu minggu, lumayan tersiksa juga.

Kepribadianku yang introvert tidak terlalu suka komik berbau sangat setimen, aku lebih memilih komik yang dapat mengasah otak, maka kujatuhkan pilihanku pada komik yang booming saat itu, Detektif Conan. Menurutku, komik ini sangat pas dengan yang kuidamkan. 

Penjelajahanku ke toko buku Gramedia memakan waktu berbulan-bulan, hingga aku berhasil mengumpulkan puluhan komik, plus juga dengan buku yang sering aku beli di sekolah. Tapi sayangnya, ketertarikanku pada komik jauh lebih besar, ketimbang buku pelajaran, karena menurutku buku pelajaran tidak menarik, sangat sulit dipahami, belum lagi tulisan-tulisannya yang berbentuk linear membuat otakku pusing, tapi berbeda dengan komik, penuh dengan gambar, jadi kelihatan menarik. 

Gambar di atas adalah salah satu gambar yang membuatku tertegun disaat membaca komik kegemaranku ini. Begitu banyak buku, hingga tak dapat dihitung pikirku saat itu. Bayangkan saja untuk menggapai satu buku yang letaknya tinggi dibutuhkan tangga, belum lagi ruangan itu bertingkat. Pada saat itulah aku menanamkan dalam diriku untuk mulai mengoleksi komik. Uang terus kutabung, dan setiap kami sekeluraga bepergian ke suatu tempat, maka aku pasti request ke toko buku. Perasaanku jika memasuki tempat itu, membuatku menemukan harta terpendam, yang lebih mahal dari baju, rok mini ataupun boneka barbie pikirku kala itu. . 

Namun selang beberapa tahun kemudian, akupun mulai jenuh disebabkan pemasukan yang mulai minim, hingga berhenti total untuk membeli komik. maka vakum-lah aku beberapa tahun tidak membaca lagi.

Lalu memasuki tingkat sekolah menengah, ketertarikanku kepada buku mulai terasa kembali, (yah namanya jika sudah cinta tak ada lagi yang dapat memisahkan kita) pas sekali didukung dengan uang jajan mulai menebal, 'ekspedisi siap' Namun berbeda pada tahun-tahun sebelumnya, kali ini aku lebih fokus mempelajari Islam, uang jajan perminggu yang dahulu aku pakai untuk membeli barang-barang yang tidak bermanfaat, kini aku alihkan untuk menabung lalu membeli buku-buku rohani. Toko-toko buku yang dahulu sempat aku tinggalkan kini menjadi sahabat terdekatku kembali. senangnya

Sampai saat ini, aku telah mengumpulkan ratusan lebih judul judul buku. posisi terbanyak adalah Islam, bahasa inggris, novel, politik/hukum dan lain sebagainya.

Pertanyaan-pertanyaan yang dulu tak terjawabkan tentang manfaat mengoleksi buku, kini terjawab dan yang kuketahui maksud ayahku adalah untuk menggali informasi-informasi yang tidak kita ketahui hingga kita menjadi bahagia karena mengenalnya.